By Hanif AG and Muhammad Rifqi Asyraf
"Siap, Semangat, Berani !” Itulah slogan penyemangat para santri peserta Mukhoyyam Tarbawy IX, yang biasanya diteriakkan apabila diucapkan kata “Mukhoyyam Tarbawy” oleh ustadz Alam Novian selaku lajnah (panitia) bagian lapangan di Mukhoyyam Tarbawy IX dan asatidzah yang lain.
Mukhoyyam Tarbawy, atau akrab disebut “MT” merupakan salah
satu program inti pesantren. Program ini dikhususkan bagi para santri kelas
Sembilan setiap tahunnya. Mukhoyyam Tarbawy dikoordinasi oleh asatidzah
terpilih yang mengemban amanah dari Ma’had untuk membantu jalannya kegiatan
Mukhoyyam Tarbawy. Alhamdulillah dengan izin Allah Al Binaa belum pernah absen
dalam mengadakan kegiatan MT setiap tahunnya, dari awal Al Binaa berdiri yakni
tahun 2004 sampai Mukhoyyam Tarbawy IX sekarang.
Mukhoyyam Tarbawy terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan
yang pertama adalah Pra – Mukhoyyam Tarbawy, kemudian acara inti Mukhoyyam
Tarbawy itu sendiri, dan yang terakhir adalah kegiatan pasca Mukhoyyam Tarbawy.
Seluruh rangkaian kegiatan ini telah dipersiapkan dengan matang oleh para
panitia yang sudah sangat berpengalaman. Oleh sebab itu, para santri pun tidak
menyia – nyiakan kesempatan emas untuk berpartisipasi dalam kegiatan Mukhoyyam
Tarbawy IX.
Angkatan kami (angkatan Sembilan) melaksanakan kegiatan pra
– MT selama kurang lebih empat bulan. Terhitung sejak pra – MT IX resmi dibuka
oleh kepala SMP IT Al Binaa, ustadz Hasyim Nur hafidzahulloh pada 31
Agustus 2014, kami merasakan perubahan positif pada diri masing – masing
ataupun angkatan kami. Pra – MT dilakukan rutin setiap malam Jum’at, Jum’at
pagi, dan terkadang Ahad siang.
Dengan diadakannya kegiatan Pra – Mukhoyyam Tarbawy IX,
kami sangat berterima kasih kepada Al Binaa dan juga para panitia, karena kami
bisa mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru dari setiap pertemuan. Pada 5
Desember 2014, setelah kurang lebih tiga
bulan melaksanakan kegiatan Pra – MT, kami diberikan kehormatan oleh Ma’had
untuk belajar baris – berbaris langsung dengan KORAMIL setempat. Di Pra –
Mukhoyyam Tarbawy, kami mendapatkan beberapa tugas yang sangat inspiratif dan
jarang ditemukan di sekolah – sekolah lain, seperti membantu membasmi jentik
nyamuk, membuat poster ‘Mukhoyyam Tarbawy IX cinta Al Binaa’, memberikan
sumbangan kepada saudara kita yang membutuhkan, membersihkan taman belakang
kampus, latihan membangun tenda, pembelajaran managemen perjalanan, dan masih
banyak lagi.
Ada
yang istimewa dari Mukhoyyam Tarbawy IX, yaitu diadakannya apel pengukuhan bagi
para panitia MT IX yang bertempat di Ruang Serba Guna 2 dan di hadiri oleh
seluruh keluarga besar Al Binaa Islamic Boarding School. Mudirul Ma’had, ustadz
Aslam Muhsin Abidin, Lc juga ikut berpartisipasi dalam acara ini dengan
memberikan amanat yang sangat membangun. Setelah memberikan amanat, mudir
memberikan tongkat komando Mukhoyyam Tarbawy kepada ustadz Indra Gunawan, S.Pd,
selaku ketua panitia Mukhoyyam Tarbawy IX. Mudir juga menyematkan atribut
kepanitiaan sesuai dengan jabatan masing – masing panitia. Tak lupa ketua
panitia MT menyerahkan bendera Mukhoyyam Tarbawy IX kepada Dantim (komandan
tim) Mukhoyyam Tarbawy IX, Muhammad Rifqi Asyraf.
Seusai melaksanakan Ujian Akhir Semester, seluruh santri Al
Binaa pulang kerumah untuk libur semester ganjil. Sementara kami seluruh santri
kelas Sembilan menetap di Al Binaa untuk menghabiskan sisa satu hari lagi Pra –
Mukhoyyam Tarbawy IX. Tepat satu hari sebelum keberangkatan kami ke Garut, kami
diberikan pengarahan tentang bagaimana cara ‘packing’ yang benar dan juga
teknis keberangkatan esok hari. Sekitar pukul delapan malam, diadakan apel
pelepasan untuk melepas keberangkatan para peserta dan panitia Mukhoyyam
Tarbawy IX keesokan harinya.
Dengan membaca do’a safar dan mengharap ridho Allah Azza
wa Jalla, pada 6 Januari 2015, kami berangkat dengan menaiki tiga bus
Karunia Bhakti sekitar pukul 06.40 WIB. Alhamdulillah perjalanan menuju Bumi
Perkemahan Cibeureum, Garut berjalan lancar, dan memakan waktu sekitar empat
jam. Walaupun berjalan lancar, ada sedikit sedikit kendala disalah satu
rombongan, yaitu bus yang ditumpangi kelompok 1-4 mengalami kerusakan, hingga
harus menunggu selama satu jam untuk melanjutkan perjalanan.
Tracking dimulai sekitar pukul 10.15 WIB. Mula –
mula seluruh peserta Mukhoyyam Tarbawy IX dikumpulkan oleh beberapa panitia di
lahan kosong di pinggir jalan raya. Kelompok Tholhah bin Ubaidillah memulai
pendakian, dan dilanjut dengan kelompok yang lain. Kelompok yang terakhir
adalah kelompok Abdurrahman bin ‘Auf, dikarenakan bus yang mereka tumpangi
bermasalah. Pada pendakian kali ini, kami menempuh jarak kurang lebih enam
kilometer, dengan melewati enam pos. Dalam perjalanan mendaki ada beberapa
teman kami yang tidak kuat lagi untuk melanjutkan pendakian, sehingga harus
dibawa oleh tim penyapu dengan menggunakan mobil.
Kebanyakan dari teman kami tumbang dikarenakan mereka kurang persiapan, kurang fit, telat makan, dan juga asma kambuh. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk sampai di lokasi perkemahan Mukhoyyam Tarbawy. Untuk sampai di lokasi, kami harus berhati – hati agar tidak tersesat dengan memperhatikan tanda tali rapia merah yang diikat sepanjang jalur pendakian.
Lokasi pertama Mukhoyyam Tarbawy IX berada di tengah hutan
pinus, dengan ukuran kavling tenda yang sempit. Awalnya kami sedikit
kurang puas dengan lokasi ini, namun ada sebagian ustadz yang memberikan
informasi bahwa esok hari kami akan pindah ke tempat kemah berikutnya, setelah
acara Dauroh Tarbawiyah selesai.
Di hari pertama Mukhoyyam, hujan tidak berhenti mengguyur
area perkemahan, hingga tanah menjadi lumpur yang membuat kami kurang leluasa
melaksanakan berbagai macam kegiatan. Ketika sedang memasak, terdengar suara
yang memecah keheningan malam. “Ada ular!!!” begitulah suara yang berasal dari
kelompok Abdurrahman bin ‘Auf, hampir seluruh peserta dan panitia berkumpul di
sumber suara. Didapatkan ular yang cukup panjang dan tidak terlalu berbisa.
Ular itu pun segera dibunuh dan dibuang karena sangat membahayakan. Hari
pertama berakhir dengan evaluasi malam yang ditemani dengan guyuran hujan, dan
membahas tentang apa saja yang harus diubah dari angkatan Sembilan.
Kegiatan di hari ke dua Mukhoyyam Tarbawy IX diawali dengan
shalat subuh berjama’ah pukul 05.30 WIB dengan cuaca yang sangat dingin.
Diperkirakan suhu sekitar 13oC. Setelah shalat, kami diberi waktu
kurang lebih dua jam untuk mempersiapkan sarapan, dan merapihkan segala
perlengkapan. Sekitar pukul 08.30 WIB kami berbaris dan memulai tracking
menuju lokasi kedua. Perjalanan kami tempuh dengan waktu dua jam dan melewati
rute yang tidak terlalu berat. Sesampainya di lokasi ke dua, sekitar pukul
10.15, kami bergegas untuk melaksanakan apel pembukaan Mukhoyyam Tarbawy IX
yang diarahkan oleh ust. Zuhdi Muslim dan dibuka langsung oleh ust. Aslam
Muhsin. Apel berjalan dengan khidmat, lalu acara dilanjutkan dengan agenda
memasang tenda dan mempersiapkan makan siang. Di lokasi kedua ini, kondisinya
sangat berbeda dari lokasi sebelumnya. Fasilitas toilet yang lebih memadai dan
juga tempatnya cukup luas, dilengkapi dengan penerangan di malam hari, cukup
membuat kami nyaman melakukan segala aktifitas.
Waktu makan siang pun tiba, makan kali ini sangat special,
dinamakan dengan ‘makan Mukhoyyam Tarbawy IX’. Makan MT IX dilaksanakan dengan
tata cara yang tidak biasa. Digelarnya plastik secara memanjang, kemudian
diletakkan makanan dari setiap kelompok, menjadikan makan siang di hari kedua
ini menimbulkan sensasi yang luar biasa. Makan Mukhoyyam Tarbawy IX juga
meningkatkan rasa kebersamaan kami, serta rasa bersyukur atas rezeki yang telah
Allah Ta’ala limpahkan kepada kita semua. Setelah makan siang, acara
dilanjutkan dengan menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar berjama’ah yang di Jama’
Qashar diawal waktu.
Agenda berikutnya adalah penyampaian materi ke Al Binaa-an
oleh ustadz Aslam Muhsin. Beliau menjelaskan kepada kami makna dari lambang Al
Binaa, kami cukup bangga saat mendengarkan bahwa tujuan Al Binaa itu sangatlah
mulia. Al Binaa bertujuan membentuk karakter santri yang tidak hanya pintar,
namun juga baik agama dan kepribadiannya. Acara ini diakhiri dengan pembagian
hadiah oleh ustadz Alam berupa uang sejumlah Rp500.000,- yang jatuh ke kelompok
Khalid bin Walid karena dapat menjelaskan ulang perihal lambang Al Binaa. Dan
juga salah satu editor majalah Al Binaa yaitu ustadz Rafael Afriyanto mendapat
hadiah sebesar Rp250.000,-. Acara pun selesai sekitar pukul setengah empat
sore.
Setelah pemataran materi, agenda berikutnya adalah lomba
tarik tambang. Lomba berjalan dengan seru, tarik tambang antar regu dan juga
ada antar panitia. Lomba di hari kedua ini dimenangkan oleh kelompok Utsman bin
Affan. Setelah acara tarik tambang, ada penilaian kerapihan tenda oleh para
panitia. Kerapihan dilihat dari segi kokoh tidaknya tenda dan isi di dalamnya,
apakah rapih atau tidak. Setelah shalat Maghrib dan Isya, kami mempersiapkan
energi untuk acara besar malamnya. Seusai makan malam dengan masing – masing
kelompok, Dantim meniupkan peluit dengan nada panjang. Hal ini menandakan bahwa
kami harus segera berkumpul did alam tenda pleton. Di dalam tenda pleton kami
disuguhi sebuah video menarik yang berbahasa Arab. Video ini diterjemahkan oleh
ustadz Andi Ahmad, dan ternyata merupakan video renungan tentang ibunda, dan
video ini sangat mengharukan dan membuat kami semakin saying kepada ibunda
kami.
Pemutaran video selesai sekitar pukul
21.30, kemudian acara dilanjutkan dengan diperintahkannya kami untuk masuk
kedalam tenda masing – masing dengan menggunakan sepatu, dan juga disertai
dengan dipadamkannya seluruh penerangan di area perkemahan. Satu persatu
kelompok di panggil untuk keluar tenda dan menghadap kepada ustadz Alam Novian
dengan membawa dua senter sebagai bekal penerangan selama kegiatan berlangsung.
Bersama ustadz Alam, kami diinstruksikan untuk terus berjalan melewati jalur
yang sedikit menanjak, masuk ke hutan dan melewati beberapa pos. Tak lupa kami
juga diberikan selembar kertas untuk membuat kesimpulan dari kegiatan kami pada
malam kedua ini.
Perjalanan pun dimulai, diawali dengan melintasi jalan berbatu yang menanjak disertai suasana sekitar yang gelap gulita tanpa penerangan kecuali dari dua senter yang setiap kelompok bawa. Di atas telah menunggu ustadz Wawanto dan ustadz Irfan, yang akan memberikan nasihat serta renungan kepada setiap kelompok tentang betapa sulitnya seorang ibu ketika sedang mengandung anaknya. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak yang berlumpur. Dari kejauhan terlihat cahaya senter berwarna merah yang menandakan bahwa pos selanjutnya berada disumber cahaya tersebut. Dari arah cahaya telah menanti ustadz Harianto bersama ustadz Zuhdi. Setelah melewati pos tersebut, tiba tiba kami dikejutkan dengan keluarnya dua orang ustadz dari semak- semak, yang kemudian menunjukkan arah mana yang harus kami tempuh.
Satu per satu pos telah dilewati dengan baik, acara pun
berjalan dengan lancar dan berakhir pukul satu pagi, karena kelelahan seluruh
santri peserta MT langsung beristirahat dalam tenda masing – masing. Keesokan
harinya, seluruh peserta dan lajnah Mukhoyyam Tarbawy IX melakukan
kegiatan seperti biasa yaitu shalat shubuh dan sarapan pagi. Pada hari ketiga
ini kami melakukan olahraga pagi, seperti push up, pleng, jogging,
seat up dan sebagainya. Setelah olahraga pagi kami melaksanakan outbond
yang bertempat di lahan kosong di belakang area camp kami. Kegiatan outbond diawali dengan satu per satu anggota MT IX
disuruh untuk merangkak di lumpur, sampai tubuhnya terselimuti oleh
lumpur. Permainan outbond yang telah disediakan oleh panitia pun sangat
beragam, seperti berjalan di atas bambu, bergelantungan di tambang, speech
English, bambu gila, tiup balon, merangkai kata, dan masih banyak lagi yang
menarik.
Sementara kami outbond, satu orang perwakilan dari
masing – masing kelompok pergi keluar area perkemahan menuju ke daerah – daerah
sekitar Cibeureum untuk melaksanakan kegiatan ‘Kafilah Dakwah’. Kafilah Dakwah
adalah bagian dari kegiatan Mukhoyyam Tarbawy IX, yang dimana dipilih satu
orang perwakilan dari setiap kelompok yang diberikan tugas untuk mengajar siswa
– siswi Sekolah Dasar di sekitar Bumi Perkemahan Cibeureum. Mereka berangkat
sekitar pukul 12 siang, dan didampingi oleh ustadz Zaenal Abidin, Lc dengan
menggunakan mobil elf Al Binaa. Outbond berakhir pukul dua siang dan
dilanjutkan dengan Shalat berjama’ah disertai makan siang dengan makan
Mukhoyyam Tarbawy seperti hari kedua.
Dikarenakan seluruh peserta Mukhoyyam Tarbawy IX kelelahan,
maka panitia berbaik hati dengan memberikan waktu istirahat selama satu jam. Setelah
beristirahat, agenda dilanjutkan dengan games yang lebih beragam dan
menarik dari hari sebelumnya, yaitu egrang, ekor naga, dan estafet bamboo. Pada
games kali ini, kami disuruh oleh para Asatidz untuk mendukung
salah satu tim yang sedang berlomba. Apabila tim yang di dukung tersebut kalah,
maka para pendukungnya disiram dengan air dingin, kegiatan tersebut dirasakan
memiliki sensasi yang amat seru bagi kami para peserta MT IX.
Waktu pun berlalu dengan cepat, hari sudah menjelang malam, maka kami segera bergegas untuk melaksanakan sholat Maghrib dan Isya’ yang dilaksanakan dengan Jama’ Taqdim. Setelah sholat, kami menyantap makan malam dan dilanjutkan dengan diperintahkannya seluruh santri untuk masuk kedalam tenda pleton untuk melaksanakan agenda selanjutnya. Agenda ali ini dinamakan malam Musyawarah MT IX, acara ini tidak dipimpin oleh para Lajnah MT IX, namun dipimpin oleh seorang santri, yang dipilih berdasarkan kemampuan untuk memimpin jalannya musyawarah.
Ternyata
yang terpilih adalah Muhammad Fakhrul Azzam, yang tidak lain adalah adik
kandung dari ketua Jamthol, Al Akh Irsyad Husnul Hidayat. Azzam pun
memulai diskusi dengan membahas kekompakan angkatan kami, namun kepemimpinan
Azzam tidak bertahan lama dan akhirnya diganti oleh Dantim, Muhammad Rifqi
Asyraf. Diskusi dilanjutkan dan banyak perdebatan yang terjadi antara kami,
para santri dan para panitia. Hingga akhirnya, terjadilah konflik antara ketua
musyawarah dengan para panitia yang menyebabkan bendera MT IX dibakar dan
ternyata hal itu hanyalah skenario untuk mempersatukan angkatan kami.
Malam itu adalah malam yang paling berkesan bagi
kami, apalagi ditambah suasana sekitar yang mendukung untuk melakukan renungan,
acara ini selesai pukul 01.30 WIB. Karena kondisi kami sudah sangat lelah,
akhirna kami langsung beranjak ke tenda untuk tidur.
Keesokan harinya, yaitu hari keempat, kami melakukan
kegiatan normal seperti hari hari sebelumnya seolah olah tidak ada apa apa pada
malam sebelumnya. Pada hari itu kami banyak sekaqli kegiatan, mulai dari
melanjutkan games hingga berenang di kawasan Darajat Pass. Games yang diadakan
oleh panitia pada hari itu tidak banyak karena hanya melanjtkan games yang
telah lalu. Games punselesai pukul 13.00 WIB. Seperti biasanya kami menunaikan
shalat berjamaah. Pada pukul 14.00, akhirnya waktu yang kami tunggu tunggu
tiba, yaitu berenang. Kami pergi ke kolam renang dengan menaiki 2 truk besar
dan 1 pick up kecil, mungkin untuk sebagian angkatan kami, hal ini adalah yang
pertama kali.
Perjalanan dari bumi perkemahan menuju kolam renang
di daerah Darajat berakhir pukul 15.00, dan kami langsung menceburkan diri
kedalam kolam renang air panas. Di kolam renang, kami bermain ember tumpah dan
lomba renang. Selama MT, hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan dan
berkesan. Berenangpun selesai pukul 17.30 dan kami langsung pulang menuju bumi perkemahan
untuk segera menunaikan sholat maghrib berjamaah. Pada malah harinya, kami
mengadakan bakar bakaran ayam, karena malam itu adalah malam terakhir.
Keeseokan harinya, kami bersiap siap untuk segera
pulang menuju Al Binaa kemudian pulang menuju rumah masing masing. Pengalaman Mukhayyam
Tarbawy merupakan pengalaman yang paling berkesan dan bermanfaat bagi kami. Mungkin
tidak untuk sekarang sekarang ini, namun insya Allah bermanfaat di masa depan
nanti.












0 komentar:
Tolong beri komentar yang membangun
Agar bisa berpengaruh lebih baik lagi kepada angkatan kami. NUEVE
@nueve_official
#NUEVE #AIBS